Lonjakan Permintaan Bahan Kolak Terjadi di Pasar Cilegon

Rabu, 18 Februari 2026 | 11:08:15 WIB
Lonjakan Permintaan Bahan Kolak Terjadi di Pasar Cilegon

JAKARTA - Menjelang bulan suci Ramadhan, permintaan bahan dasar pembuatan kolak di Pasar Blok F, Kota Cilegon, meningkat tajam. 

Pedagang menyebut lonjakan ini terjadi karena warga tidak hanya membeli untuk dikonsumsi sendiri, tetapi juga untuk dijual kembali di pinggir jalan, menjadikan kolak sebagai salah satu sumber penghasilan tambahan. Fenomena ini menjadi indikasi kuat tradisi berbuka puasa yang tetap lestari dan mendorong aktivitas ekonomi lokal.

Menurut Syahroni, salah seorang pedagang yang sudah lama menjual bahan kolak, peningkatan permintaan terlihat beberapa hari sebelum Ramadhan. “Alhamdulillah pak meningkat, karena kan mau puasa. Ada yang untuk dijual atau dimakan sendiri,” ucapnya.

Bahan-bahan yang paling diminati antara lain kolangkaling, sekuteng, pisang kepok matang, pisang tanduk, pisang uli, serta beberapa bahan lain yang biasa digunakan untuk membuat kolak.

Fenomena ini bukan hanya sekadar tren konsumsi musiman, tetapi juga mencerminkan bagaimana tradisi kuliner Indonesia tetap menjadi bagian dari aktivitas ekonomi masyarakat. Pedagang kecil pun merasakan manfaat langsung dari lonjakan permintaan ini.

Sumber Pasokan dan Mekanisme Penjualan

Syahroni menjelaskan bahwa bahan kolak biasanya diperoleh dari para tengkulak yang beroperasi di Pasar Keranggot, Kota Cilegon. “Dapat beli dari tengkulak pak, belinya di pasar Kranggot di sana yang bos besarnya mah,” ujarnya. Setelah itu, ia menjual kembali kepada masyarakat dengan margin keuntungan yang wajar.

Roni, pedagang lain yang sudah puluhan tahun menjual bahan dasar kolak, mengatakan bahwa usaha ini menjadi andalan untuk memenuhi kebutuhan ekonomi keluarga. “Sudah lama pak, yah alhamdulillah aja untuk anak istri di rumah yang penting halal,” ujarnya. 

Menurutnya, momen Ramadhan selalu menjadi kesempatan bagi para pedagang untuk meningkatkan pendapatan karena permintaan masyarakat meningkat pesat.

Mekanisme ini menunjukkan rantai distribusi sederhana namun efektif, di mana bahan baku dikumpulkan oleh tengkulak dari berbagai daerah, kemudian dijual ke pedagang eceran, yang selanjutnya langsung menjangkau konsumen atau pedagang musiman lainnya.

Tradisi Kuliner Ramadhan dan Pilihan Menu Favorit

Kolak menjadi salah satu menu favorit saat berbuka puasa karena memiliki rasa manis dan tekstur lembut yang cocok untuk mengembalikan energi setelah menahan lapar dan dahaga seharian. 

Secara tradisional, kolak dibuat dari rebusan pisang, ubi, atau bahan lain dengan santan dan gula. Variasi bahan dan rasa membuat kolak digemari berbagai kalangan masyarakat, dari anak-anak hingga orang dewasa.

Selain kolak, masyarakat juga menyiapkan berbagai takjil manis dan segar, termasuk kurma, es buah, gorengan seperti bakwan atau risoles, sebagai pelengkap berbuka. 

Untuk makanan berat, hidangan seperti sate ayam, bakso, nasi goreng, sup ayam, dan ikan bakar tetap menjadi pilihan populer yang mengenyangkan sekaligus lezat.

Kebiasaan menyiapkan kolak dan takjil tidak hanya menegaskan tradisi Ramadhan, tetapi juga mendorong ekonomi lokal melalui penjualan bahan baku dan produk olahan. Lonjakan permintaan bahan kolak ini menjadi bukti nyata bahwa kuliner tradisional tetap menjadi bagian integral dari kehidupan masyarakat.

Dampak Ekonomi dan Sosial bagi Warga Lokal

Peningkatan permintaan bahan kolak memberi efek ganda: membantu pedagang kecil memperoleh pendapatan tambahan dan menjaga kelestarian tradisi kuliner lokal. Bagi pedagang eceran, lonjakan penjualan bahan kolak menjadi peluang penting untuk menutupi kebutuhan keluarga dan meningkatkan kesejahteraan.

Selain aspek ekonomi, aktivitas jual-beli ini memperkuat interaksi sosial di pasar, karena masyarakat dari berbagai lapisan berkumpul untuk membeli bahan kolak atau takjil. Tradisi ini juga mendorong masyarakat untuk tetap menjaga nilai budaya dan kearifan lokal dalam menjalankan ibadah puasa.

Fenomena musiman seperti ini mencerminkan sinergi antara tradisi, ekonomi, dan sosial, di mana satu momen keagamaan memicu rantai aktivitas yang positif bagi masyarakat luas. Pedagang lokal berharap momentum ini dapat terus memberikan manfaat dan tetap berlangsung setiap tahun.

Terkini