JAKARTA - Di tengah perkembangan teknologi dan kemudahan akses keuangan digital, usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di Indonesia, termasuk yang ada di Padang, semakin merasakan manfaatnya.
Salah satunya adalah Fahru Gunadi, pengusaha produk kulit yang memulai bisnisnya dari hobi dan kini telah berjalan selama sembilan tahun.
Dengan dukungan layanan keuangan digital, Fahru berhasil mengembangkan usaha kecilnya menjadi bisnis yang lebih stabil dan berkelanjutan, meskipun awalnya ia menghadapi berbagai tantangan.
Fahru memulai usaha dengan menjual dompet dan aksesori kulit yang ia buat sendiri, setelah mendapatkan respons positif dari teman-temannya.
Bisnis ini awalnya tumbuh berkat promosi dari mulut ke mulut, namun seiring waktu, ia mulai mencari cara untuk memperbesar kapasitas usaha dan memperbaiki alur distribusinya. Salah satu langkah penting yang ia ambil adalah memanfaatkan platform digital untuk memperluas jangkauan pasar.
Peluang dan Tantangan yang Dihadapi UMKM Padang
Bagi Fahru, mengembangkan bisnis bukanlah hal yang mudah. Meskipun ia sudah menggeluti bisnis ini selama hampir satu dekade, masalah seperti peningkatan kapasitas produksi dan kebutuhan modal selalu menjadi tantangan utama.
Salah satu hal yang membuatnya sulit mendapatkan pinjaman adalah profil usahanya yang belum memenuhi kriteria lembaga jasa keuangan formal, yang memerlukan dokumen administratif yang lebih kompleks.
Namun, dengan adanya layanan keuangan digital seperti SPinjam dan SPayLater, Fahru bisa memperoleh pinjaman secara online untuk mendukung kelancaran arus kasnya.
"Jujur kami sangat terbantu dengan SPinjam dan SPayLater. Bahan baku banyak dibeli secara online, dan ini sangat berpengaruh pada cash flow. Pinjaman online ini digunakan untuk menjaga arus kas saja," ungkap Fahru.
Keputusan Bijak dalam Mengelola Arus Kas
Mengambil pinjaman digital tentu tidak tanpa risiko, namun Fahru mengaku bahwa ia menyikapi hal tersebut dengan bijak. Dengan penjualan yang tidak secepat kebutuhan sehari-hari, ia dapat merencanakan pembayaran cicilan dengan hati-hati dan disiplin.
“Begitu ada keuntungan, langsung disisihkan untuk bayar pinjaman. Jadi kami mengelola dengan sangat hati-hati,” kata Fahru.
Langkah ini terbukti berhasil, karena saat ini omzet usahanya telah meningkat pesat, dari hanya ratusan ribu rupiah per bulan kini menjadi sekitar 10 juta rupiah. Keputusan untuk menggunakan layanan keuangan digital dengan risiko terukur memberikan Fahru fleksibilitas untuk mengembangkan produk secara bertahap tanpa mengganggu operasional bisnis.
Tantangan Pengelolaan Usaha di Industri Fesyen
Pengalaman serupa juga dialami oleh Rize Rizana, pengusaha fesyen muslim yang memproduksi hijab dengan motif khas Minangkabau. Seperti halnya Fahru, Cece panggilan akrabnya memulai usaha ini dengan produksi terbatas, hanya 50 hingga 100 pieces hijab setiap bulan, yang dijual melalui media sosial.
Namun, berkat kemajuan yang didapat, Cece kini mampu memproduksi hingga 300 pieces hijab per bulan dan menjual produknya melalui berbagai platform e-commerce.
Namun, peningkatan produksi juga menuntut manajemen yang lebih cermat, terutama dalam pengelolaan stok dan arus kas. “Kami harus bisa mencatat penjualan dan pengeluaran dengan teliti untuk mengetahui produk mana yang perputarannya paling cepat dan mana yang memiliki margin keuntungan terbaik,” ujar Cece.
Dengan pengelolaan yang lebih disiplin, Cece kini bisa membuat keputusan produksi berdasarkan data yang akurat, bukan hanya berdasarkan intuisi.
Layanan Keuangan Digital untuk Meningkatkan Daya Saing UMKM
Bagi pengusaha seperti Fahru dan Cece, layanan keuangan digital seperti Buy Now Pay Later (BNPL) telah memberikan kemudahan dalam mengelola modal kerja dan arus kas.
Sistem BNPL ini sangat relevan untuk usaha kecil yang membutuhkan kelonggaran dalam pembayaran tanpa harus merogoh banyak biaya di awal. Hal ini juga mendorong sektor UMKM untuk lebih berkembang di tengah kompetisi yang semakin ketat, khususnya di industri fesyen dan aksesori.
Menurut data Otoritas Jasa Keuangan (OJK), layanan BNPL semakin berkembang pesat dan diperkirakan terus tumbuh pada tahun-tahun mendatang.
Pada tahun 2025, pembiayaan BNPL mengalami peningkatan yang signifikan, mencatatkan angka sebesar Rp11,94 triliun, dengan rasio kredit bermasalah (Non-Performing Financing/NPF) yang terjaga di level 2,73%.
Data ini menunjukkan bahwa layanan keuangan digital semakin populer dan dipercaya oleh pengusaha UMKM untuk mendukung kelangsungan usaha mereka.
Peran Layanan Keuangan Digital dalam Pertumbuhan UMKM
Layanan keuangan digital telah memberi dampak besar bagi perkembangan usaha kecil di Indonesia. Dalam hal ini, Fahru dan Cece adalah contoh nyata bagaimana teknologi dan inovasi keuangan digital dapat membantu UMKM dalam mengelola modal kerja dan merencanakan produksi dengan lebih efisien.
Dengan kemudahan akses dan risiko yang terukur, layanan keuangan digital juga memungkinkan para pelaku UMKM untuk lebih fleksibel dalam mengambil keputusan bisnis, tanpa perlu khawatir dengan masalah keuangan yang bisa mengganggu operasional.
Selain itu, dengan pengelolaan keuangan yang lebih efisien, para pengusaha ini juga dapat berfokus pada inovasi produk dan ekspansi usaha, yang pada gilirannya akan meningkatkan daya saing mereka di pasar domestik dan internasional. Semua hal ini pada akhirnya berkontribusi pada pertumbuhan ekonomi Indonesia yang lebih inklusif dan berkelanjutan.